“ Kelanjutan
Diplomatik dan Pengakuan Kedaulatan “
Sebelum
dilaksanakan Konferensi Meja Bundar (KMB),diadakanlah Konferensi
Inter-Indonesia antara Indonesia dan BFO (Bijeenkomst voor Federal
Overleq).Konferensi ini diselenggarakan dua kali,yakni 19-22 Juli 1949 di
Yogyakarta dan pada tanggal 31 Juli-2 Agustus 1949 di Jakarta.Konferensi ini
dihadiri oleh delegasi Indonesia dipimpin Moh.Hatta,sedangkan delegasi BFO
dipimpin oleh Sultan Hamid II.
Sultan Hamid II : “ Assalamu’alaikum Wr.Wb.Sebelumnya,saya mewakili
negara-negara BFO dengan ini menyatakan mendukung tuntutan Republik Indonesia
kepada Belanda atas penyerahan kedaulatan tanpa ikatan apapun. “
Drs.Moh.Hatta : “ Saya sendiri sebagai wakil Bangsa
Indonesia merasa senang dan berterima kasih
atas dukungan dari BFO.Bagaimana Sultan, jika
kita membentuk suatu negara antara Indonesia dan BFO ? “
Sultan Hamid II : “ Betul.Lalu bagaimana dengan nama
negaranya,benderanya,lagu kebangsaannya, bahasanya,dan kapan merdekanya ? “
Moh.Hatta : “ Bagaimana jika kita menyebutnya
Republik Indonesia Serikat dengan tetap memakai Sang Merah Putih,lagu kebangsaan “
Indonesia Raya “,menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional,dan
tetap menjadikan 17 Agustus sebagai hari Kemerdekaan. “
Sultan Hamid II : “ Saya setuju dengan itu.Namun,bagaimana
dengan Angkatan Perangnya ? “
Moh.Hatta : “ Angkatan Perang Republik Indonesia
Serikat adalah angkatan perang nasional. “
Para Hadirin : “ Setuju ” (dengan suara yang semangat)

Pada tanggal 23 Agustus-2 November
1949,diadakan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Denhaag.Sebagai ketua KMB adalah
Perdana Menteri Belanda,Willem Dress.Delegasi Indonesia dipimpin oleh
Moh.Hatta,BFO dibawah pimpinan Sultan Hamid II,dan delegasi Belanda dipimpin
J.H.van Maarseveen, sedangkan dari UNCI (United Nation Commision for Indonesia)
sebagai mediator dipimpin oleh Chritchley.
J.H.van
Maarseveen : “ Baiklah kami akan mengembalikan kedaulatan Indonesia dengan
syarat Indonesia mau berserikat dengan kami dan bergabung
menjadi Uni Indonesia Belanda.Bagaimana Indonesia kalian setuju ? “
Moh.Hatta : “ Tunggu dulu,bagaimana dengan
perihal Irian Barat ? “
Moh.Roem : “ Ya...Apakah kalian akan
mengembalikannya sebagai kesatuan dari NKRI? “
Dr.soepomo : “ Ya..saya rasa perundingan ini akan
berjalan mulus jika kalian mau mengembalikan Irian Barat
kepada kami. “
J.H.van
maarseveen : “ Itu tidak mungkin “
Moh.hatta : “ Apa yang tidak mungkin,bukankah
sejak dulu Irian Barat adalah NKRI dan kalian telah mengambilnya,bukan
? “
Dr.Soepomo : “ Ya...betul dan kami menginginkannya
kembali ! “
( Pihak belanda mengerutkan dahinya
seolah-olah bagai pencuri yang tengah diadili )
J.H.van
Maarseveen : ” Ya...baiklah,kami setuju.Kami akan menyerahkan Irian Barat
setahun setelah Indonesia memperoleh kedaulatan. “
Chritchley : “ Bagaimana Indonesia kalian setuju
? ”
Wakil Indonesia
: “ Ya,kami setuju. “
Dr.Soepomo : “ Acara selanjutnya kami serahkan kepada tuan
Chritchley selaku wakil PBB “
Chritchley :
“ Baiklah sebagaimana kita ketahui bersama perundingan ini telah
mencapai mufakat dan hasil perundingan ini akan dibacakan oleh
Sultan Hamid II sebagai delegasi BFO. “
Sultan Hamid II : “ Perundingan
meja bundar ini menghasilkan tiga pokok penting yaitu:
1.
Indonesia menjadi republik
Indonesia Serikat dan Belanda akan menyerahkn kedaulatan kepda RIS pada bulan
Desember 1949.
2. RIS
& Belanda akan bergabung dalam Uni Indonesia Belanda.
3. Irian
Barat akan diserahkan setahun setelah pengakuan kedaulatan oleh Belanda.
Demikian hasil perundingan ini sekian dan terimakasih.
“
Akhirnya pada tanggal 27 Desember
1949,pemerintah Belanda menyerahkan kedaulatan kepada pemerintahan Republik
Indonesia Serikat (RIS).Upacara penandatanganan naskah penyerahan kedaulatan
dilakukan di dua tempat,yaitu di Belanda dan di Indonesia.
a. Di
Belanda penyerahan kedaulatan dilakukan oleh Ratu Yuliana kepada Moh.Hatta
b. Di
Indonesia penyerahan kedaulatan dilakukan oleh Wakil Tinggi Mahkota Belanda,A.H.J.Lovink
kepada wakil pemerintah Republik Indonesia Serikat,Sri Sultan Hamengku Buwono
IX.
